Kamis, 03 Mei 2012

Mentari dari Bali

Gede Prama, Penulis Buku Simfoni di Dalam Diri: Mengolah Kemarahan Menjadi Keteduhan; Fasilitator Meditasi di Bali Utara
SUMBER : MEDIA INDONESIA, 24 Maret 2012



ENTAH mana yang benar, sejarah membuat tokoh atau tokoh membuat sejarah. Yang jelas, sulit mengingkari kita hidup di putaran waktu yang mengalami kelangkaan tokoh. Di negeri Barack Obama yang lama menjadi teladan demokrasi, sudah mulai ada orang yang berteriak ‘bohong’ saat presiden berpidato. Di Eropa, sejarah pemimpinnya mulai dinodai hal-hal tidak beradab seperti pemimpin dilempar dengan sepatu. Kita di Indonesia serupa, oleh media dan kritikus pemimpin senantiasa duduk di kursi yang disalahkan.

Bali yang ditulis sejumlah penulis Barat dengan bahasa puitis, seperti morning of the world, juga tidak ketinggalan. Pentas media dan politik berisi terlalu banyak perseteruan. Ciri dominannya cuma satu, semua mengaku benar, semua mau didengar.

Bila digabung menjadi satu, riuh sekaligus kisruhlah kehidupan. Itu tanpa memberikan ruang sedikit pun untuk berpikir jernih, tanpa memberikan tempat bagi keheningan untuk lewat kendati hanya sebentar. Ciri khas zaman ini ialah sangat langka ada manusia yang menyediakan diri untuk menjadi listening warrior. Menyediakan diri untuk mendengar tidak saja dengan telinga, tetapi juga dengan cinta. Tidak saja sepi, tetapi juga penuh empati. Kemudian merangkai serpihan-serpihan kebenaran yang berantakan khususnya oleh politik, serta mewartakan ke publik bahwa apa yang kita ributkan membuat manusia menjauh dari kejernihan dan jalan keluar.

Lebih dari itu, di zaman yang marak dengan bunuh diri dan tsunami ini, berlaku rumus sederhana: listening is nourishing. Saat mendengar, kita ikut menghidupi dan menyembuhkan banyak jiwa.

Dalam konteks listening warrior itulah Hari Raya Nyepi jadi relevan. Bagi anak muda yang masih teramat lapar akan kesuksesan dan progress, keheningan kerap disebut membuang kesempatan. Namun, setiap jiwa yang sudah tumbuh dewasa secara spiritual berpelukan lembut dengan tubuh kosmis (baca: istirahat dalam keheningan) serupa menghirup udara segar. Itu tidak hanya memperpanjang umur, tetapi juga berjumpa dengan wajah kehidupan yang semakin menyatu dari hari ke hari. Menyatu dengan alam, menyatu dengan semua ciptaan, menyatu dengan Tuhan. Tetua Bali menyebutnya tri hita karana.

Siapa yang berani menyelam ke kedalaman kehidupan seperti ini, kolam kehidupan yang tadinya keruh kemudian terang-benderang terlihat. Ternyata dari zaman lahirnya nabi sampai zaman kini, kehidupan senantiasa dialektis. Itu serupa manusia yang membangun rumah kemudian dihancurkan rayap, di mana ada orang membangun, di sana ada kekuatan lain yang menghancurkan. Di mana lahir kesucian, di sana juga lahir kekotoran.

Bila manusia biasa dibuat kisruh oleh pola dialektis kehidupan seperti ini, para suci duduk rapi di atas pertentangan dan dualitas, menyaksikannya kemudian memutar roda kasih sayang. Hadirnya rayap yang menghancurkan rumah (baca: hadirnya penggoda di setiap zaman) bukan alasan untuk menghentikan pembangunan. Sebaliknya, itu membuat kehidupan menjadi semakin halus dan semakin halus . Serupa Mahatma Gandhi yang halus karena hadirnya penjajah Inggris, mirip Nelson Mandela yang lembut karena dipenjara 27 tahun. Mirip Muhammad Junus yang peka karena tumbuh di tengah kemiskinan Bangladesh.

Amerika memang putaran waktunya sedang turun, Eropa memang sedang dibelit krisis, Indonesia memang sedang menata ulang dirinya. Semuanya hanya manifestasi dari hukum dialektis yang sama. Ke mana pun siklus kehidupan sedang berjalan, peradaban memerlukan listening warrior. Yang bisa hening di tengah keramaian, mendengar tidak saja dengan telinga, mengumpulkan dan merangkai serpihan-serpihan kebenaran, kemudian mewartakan kepada pemimpin khususnya.

Pemimpin bukan ditakdirkan sebagai bagian dari pertentangan, melainkan diharapkan duduk rapi di atas pertentangan, melihatnya secara jernih, kemudian memutar roda keputusan hanya dengan kasih sayang. Di samping itu, dengan keheningan yang sempurna, listening warrior juga ikut mengirim vibrasi kesembuhan ke tubuh kosmis yang banyak luka sebagaimana ditunjukkan banyaknya tsunami, banjir, dan bunuh diri.

Dengan demikian, Nyepi bukan hanya berwajah penghematan energi, pengurangan emisi, memperkecil kemungkinan pemanasan global, melainkan juga menjadi momen kontemplasi yang memungkinkan manusia keluar dari kolam kehidupan yang kisruh oleh kepentingan dan kekuasaan. Itu kemudian mengizinkan ketenangan, kesejukan, dan kedamaian memberikan ruang bagi lahirnya kejernihan.

Bila listening warrior lahir, benar seperti ditulis pemenang hadiah nobel sastra Rabindranath Tagore yang sepulang dari kunjungan ke Bali kemudian menyebut Bali sebagai morning of the world. Mentari pagi dari Bali untuk Bumi, mentari keheningan yang mengetuk pintu hati banyak manusia untuk mendengar karena teramat langka manusia di zaman ini yang mau mendengar. Kendati telinga manusia dua kali lebih banyak daripada mulut, manusia tetap memerlukan perjuangan keras di zaman ini untuk bisa mendengar. Padahal, hanya di kedalaman pendengaran manusia bisa terhubung dengan tubuh kosmis, mengalami kebersatuan, kemudian bisa merasakan tidak hanya setiap tempat menjadi rumah (home), setiap waktu menjadi home, tapi juga setiap keadaan batin juga home (every state of mind is home).

Coba perhatikan sebagian peninggalan tetua Bali. Di kepala Pulau Bali, nama desanya Kubutambahan. Kubu berarti rumah, tambah berarti positif. Artinya, rumah manusia-manusia yang berpikir positif.

Di kaki Pulau Bali, tempat matahari terbit indah sekali memeluk puncak Gunung Agung, desanya bernama Sanur. Sa artinya satu, nur artinya cahaya. Ringkasnya berarti cahaya yang satu. Sebuah tempat yang amat terkenal ke seluruh dunia bisa menyembuhkan banyak manusia bernama Ubud, berarti ubad alias obat. Lokasinya di Bali Tengah.

Bila digabung menjadi satu, isilah kepala dengan hal-hal positif, langkahkan kaki diterangi cahaya yang satu. Kesembuhan pun bisa muncul kemudian.

Caranya, selalu hindari hal-hal ekstrem, istirahatlah di jalan tengah. Dari situ mungkin tangan-tangan pemimpin yang bergandengan dengan semuanya baru bisa hadir, kemudian membuat gerak kehidupan sebagai perjalanan pulang. Sekaligus, bersamasama kita sembuhkan tubuh kosmis yang sedang luka di mana-mana. Besok pagi di Hari Nyepi, matahari pemahaman seperti inilah yang terbit dari Bali. Selamat Hari Raya Nyepi. Semoga semua makhluk berbahagia. ●

Mendengarkan juga Membahagiakan

Gede Prama, Penulis Buku Simfoni di Dalam Diri , Fasilitator Meditasi di Bali Utara
SUMBER : KORAN TEMPO, 28 April 2012


Jiwa yang berlubang, itu ciri dominan kehidupan manusia kekinian. Perhatikan, semua mengaku benar, semua ingin didengar. Ini yang berada di balik kekisruhan seperti ditolaknya kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak dengan demonstrasi, pemerintah selalu disalahkan. Hakim berdemonstrasi meminta kenaikan gaji. Sebuah media lokal di Sulawesi Selatan menuliskan judul beritanya di halaman pertama begini: "70% APBD untuk Gaji". Bila demikian, untuk memperbaiki jalan, prasarana pendidikan, merawat rakyat telantar, sisa berapa?

Jika boleh jujur, kecenderungan serupa terjadi di semua belahan dunia. Wanita yang stres berat (jiwanya berlubang) kemudian mencoba menutupi lubang jiwanya dengan pergi ke dunia gemerlap. Hasilnya, lubangnya bukan ditutupi, malah ia diperkosa (dilubangi dengan lubang jiwa yang lebih besar). Pria tidak puas dengan istri, kemudian mencoba menutupi lubangnya dengan pergi ke pekerja seks. Hasilnya lebih menakutkan, tidak hanya muncul lubang jiwa baru yang lebih besar, nyawanya terancam AIDS/HIV. Pelajarannya, kebanyakan manusia mencari penutup lubang jiwanya di luar dan akhirnya kecewa.

Masyarakat dan pemerintah sesungguhnya didesain untuk menutupi lubang jiwa, seperti ketidakpuasan dan kemarahan. Tapi karena banyak elite yang masuk ke sektor publik diawali dengan niat mau menutupi lubang jiwanya (baca: mau cepat kaya, cepat berkuasa, dan motif diri sendiri lainnya), bukan mau menutupi lubang jiwa orang lain melalui pelayanan, akhirnya yang terjadi pemerintah malah menciptakan lubang baru yang memicu kemarahan.

Di titik inilah kita memerlukan banyak caregivers (manusia peduli) demi mengimbangi kecenderungan masyarakat yang ditandai oleh semakin derasnya energi untuk saling melubangi. Titik berangkatnya bisa dimulai dengan merenungkan ulang kebiasaan tua bahwa penutup lubangnya ada di luar. Guru meditasi Pema Chodron adalah sebuah lentera. Tatkala pelayanannya kepada suami selama 20 tahun harus berujung pada perceraian, ia tidak mencari penutup lubangnya lewat narkoba, apalagi bunuh diri, melainkan menutupi lubang jiwanya melalui meditasi. Dan ternyata benar, meditasi, di samping bisa menutupi lubang jiwanya, bisa membawa Pema Chodron pada kesimpulan terindah tentang kehidupan: "You are perfect as you are". Inilah tanda jiwa yang sudah tidak berlubang, semua sempurna apa adanya.

Ia serupa cerita sekolah binatang. Suatu hari binatang mendirikan sekolah. Pelajaran berenang dibimbing oleh ikan. Mata kuliah terbang, gurunya burung. Kursus berlari, instrukturnya serigala. Setelah beberapa lama, sekolahnya dibubarkan. Ternyata burung sempurna menjadi burung, ikan sempurna menjadi ikan, serigala sempurna menjadi serigala. Lubang jiwa muncul saat serigala memaksa berenang sebagus ikan, tatkala ikan memperkosa dirinya agar bisa berlari sekencang serigala. Meminjam rumus sederhana Shinzen Young dalam The Science of Enlightenment, penderitaan adalah rasa sakit dikalikan dengan penolakan. Dan meditasi berkonsentrasi pada menolkan penolakan. Bila penolakannya nol, maka penderitaan juga nol.

Dalam langkah praktis, meditasi serupa menatap aliran air sungai. Kehidupan keseharian persis sama dengan barang-barang yang hanyut di sungai. Sampah, dedaunan, semuanya hanya datang dan pergi. Penderitaan (lubang jiwa) muncul saat manusia dibawa hanyut oleh "sampah-sampah" kehidupan yang tidak kekal. Berharap agar kebahagiaan kekal selamanya, berdoa agar kesedihan lenyap selamanya. Padahal semuanya datang dan pergi. Istirahat dalam meditasi terjadi saat seseorang berkonsentrasi hanya pada melihat aliran air. Sekaligus memeluk secara alamiah--tanpa perlu menghentikan, tanpa perlu hanyut--semua mengalir apa adanya. Inilah istirahat yang sesungguhnya.

Serupa langit yang tidak bisa dipisahkan dari warna biru, manusia yang sudah istirahat dalam meditasi tidak bisa dipisahkan dari kerinduan berbagi kasih sayang. Dalam perspektif ini, bisa dimaklumi bila ada yang menitipkan pesan: "listening is nourishing". Saat mendengar, sesungguhnya kita sedang menghidupi banyak jiwa yang lapar. Ada yang berbisik: "listening is fine tuning". Tatkala mendengar seseorang sedang terhubung dengan diri yang lebih tinggi, kemudian rindu berbagi. Ada yang menemukan resep "the healing power of being deeply heard". Mendengarkan secara mendalam membuat seseorang bisa menyembuhkan.

Digabung menjadi satu, bila ada manusia yang bisa menemukan kedamaian dengan mendengar, maka tatanan kosmik akan lebih seimbang. Sebagian manusia memang mengaku selalu benar, meminta selalu didengar, mencari penutup lubang jiwa di luar, tapi mesti ada yang menjaga keseimbangan kosmik melalui listening in the service of wholeness. Mendengar sebagai pelayanan pada tatanan kosmik yang holistik. Dengan cara ini, bukan hanya diri ini sembuh, tatanan kosmik yang lama terluka oleh keterpisahan juga tersembuhkan.

Dalam tataran kesembuhan seperti ini (the ultimate healing), kesembuhan adalah terhubung rapinya tubuh ini dengan tubuh-tubuh yang lain. Lubang jiwa orang adalah lubang jiwa kita juga, kesembuhan orang adalah kesembuhan kita juga. Dan jembatan yang bisa menghubungkan keterpisahan ini bernama mendengar. Mungkin itu sebabnya, mistikus Kabir pernah bergumam: "When I silenced my mouth, sat very still, and fixed my mind at the doorway of the Lord, I soon was linked to the music of the word. And all my talking came to an end. " Tatkala mulut terkunci rapi, duduk bersahabatkan keheningan, memusatkan batin hanya pada sang Jalan, kehidupan kemudian berubah menjadi nyanyian. Dan semua suara serta doa tenggelam dalam kesempurnaan keheningan. Di Timur, tatkala kesempurnaan keheningan dipeluk lembut oleh kesempurnaan kasih sayang, ia disebut praktek Avalokiteshvara. Sederhananya, bunga spiritual baru belajar mekar saat seseorang berevolusi dari bahagia karena didengar menuju bahagia karena mendengar. Kemudian ikut mengurangi penderitaan dunia. ●

Ujian dan Krisis Humanisme

Mudji Sutrisno; Budayawan, Guru Besar STF Driyarkara dan Universitas Indonesia
SUMBER : SINDO, 04 Mei 2012


Humanisme semenjak tampilnya dalam sejarah peradaban untuk menjunjung tinggi kemanusiaan selalu saja menemui tantangan.Tantangan utamanya adalah bentuk-bentuk sistem sosial dan politik yang mau mengobjekkan, menjadikan manusia bukan lagi sebagai subjek dalam hidup bersama.
Atau menjamurnya alasanalasan ideologis yang atas nama keyakinan atau mazhab pikiran maju ujung-ujungnya menaruh manusia hanya sebagai “alat”, instrumen, bahkan sarana untuk mencapai tujuan-tujuan si pemegang ideologi itu sendiri. Tantangan berikutnya muncul manakala pikiran atau paham humanisme oleh lawannya dianggap terlalu “sekuler” dalam arti nirnilai religius,melulu nilai manusiawi sehingga mau dipaksa diganti dengan paham “humanisme religius” yang didasarkan dan diacukan pada alasan mengapa manusia berharga?

Karena ia wakil Allah atau gambar citra Allah dan ciptaan agung-Nya.Kehendak ini positif sejauh tidak terseret lalu meniadakan humanisme sekuler yang tetap terbuka berdialog serta mendasarkan dirinya pada posisi “manusia” sebagai manusia itu saja (baca: tanpa harus diembelembeli dan ditempeli alasan-alasan ideologis religius) dan tetaplah wajib serta harus dihormati (secara moral).

Dalam perjalanan peradaban itulah sesungguhnya terjadi “perang tanding” antara mereka yang setelah memegang “kekuasaan” sebagai rezim yang mengatur hidup bersama dalam sistem politik mau “mengelupas” ingatan atau memori kejahatan kemanusiaan dari sejarah sebuah bangsa dan peradabannya.

Karena merekalah pelaku kejahatan kemanusiaan itu sendiri dan berusaha menjadikan “lupa sejarah” sebagai program yang melupakan para korban, di satu pihak. Adapun di pihak lain, humanisme perjuangan kemanusiaan terus bangkit melawan “lupa”dan terus sadar diri bahwa tidak ada sebuah bangsa yang sehat dalam maju ke depan tanpa memberi keadilan pada pelaku-pelaku kejahatan kemanusiaan.

Dan baru setelah keadilan ditegakkan, rekonsiliasi mendapatkan ranah tumbuhnya untuk membangun lagi kemanusiaan yang saling hormat menghormati sesama manusia. Mengapa humanisme senantiasa mengalami ujiannya? Jawabnya ada pada soal bagaimana relasi kekuasaan dihayati. Artinya, “kekuasaan” sebagai potensi untuk mengatur orang lain dan kemampuan untuk mengemudikan sesama dalam sistem atau kemampuan individu itulah harus diperiksai dan dicermati bagaimana pelaksanaannya: humanis atau dehumaniskah?

Pada ranah kuasa inilah batu uji humanisme terlaksana. Dalam ranah hubungan atau relasi dengan sesama manusia secara “kuasa politis”, ekonomis, sosial, kultural inilah yang jadi pertaruhan dalam humanisme harus diukur. Ada tiga nilai pokok dalam humanisme. Pertama, menjunjung “anugerah Tuhan” pada akal budinya (rasionalitas). Kedua,kebebasan kehendak (libertas). Ketiga, keindividuan atau pribadinya sebagai subjek yang otonom atau mandiri (auto= sendiri dan nomos=putusan nurani sebagai norma).

Krisis Humanisme

Dalam perjalanan sejarah peradaban, krisis dan tantangan pertama terhadap humanisme berada di lapisan pertanyaan epistemik, yaitu pada ketika akal sehat manusia dan otonomi kehendak bebasnya sebagai individu pelaku sejarah dihadapkan pada kekerasan bom-bom yang dirancang oleh akal budi secara dingin untuk membunuh sesamanya.

Bagaimana ini mungkin secara rasional? Konstruksi politik kekuasaan yang dirancang sistematis logis dalam Perang Dunia I dan II yang membunuh sesama manusia, bagaimana bisa diterangkan secara akal budi? Oleh karena itulah Thomas Hobbes menyatakan bahwa biangnya ialah ranah relasi kuasa antarmanusia, yaitu Homo Homini Lupus, manusia adalah serigala bagi sesamanya yang mau saling mengerkah bila hasrat liar kuasa itu tidak diatur.

Ini pulalah yang oleh filsuf Indonesia diberi jalan keluar ranah relasi sosial yang humanis oleh (alm) Drijarkara dengan ajakan membangun hidup bersama sebagai sesama sahabat atau rekan (Homo Homini Socius). Tantangan atau ujian krisis pada humanisme yang kedua berada di lapisan eksistensial, menyangkut alasan dasar manusia berada di dunia dan hidup ini.Apa itu? Ternyata berhadapan dengan persoalan dasar tata kosmos sebagai tempat hidupnya dan eksistensi umat manusia, yang seharusnya dijaga, dirawat agar anak cucu bisa terus hidup di bumi ini.

Namun mengapa dirusak, dihancurkan? Humanisme rasional liberal dengan “kelihaian rasionalisasi visi dan sentralisasi manipulasi modal kapital” dengan sadar tega menguasai seluruh sumber-sumber alam hingga menghancurkan ekologi dan merusak tempat tinggal anak-anak manusia. Krisis yang ketiga berada pada lapisan “komunikasi antar manusia”. Dahulu dipromosikan gegap gempita oleh humanisme rasionalis bahwa proses bahasa merupakan komunikasi manusia-manusia rasional yangmengekspresikan kejujuran.

Mengapa ada krisis di sini? Karena kini makna kata dan bahasa mulai dari wacana, tulisan, visual, makna hingga arti kebenarannya serta isinya ditentukan oleh mereka yang mempunyai kuasa membuat, menafsir,dan mengomunikasikan bahasa dalam monopoli tafsiran. Tidak hanya itu, dengan kapitalnya mereka menguasai pusat-pusat pendidikan komunikasi “hanya demi pemenangan kepentingan penguasa” dan bukan demi pencerahan sebagai nilai peradaban manusia.

Pada lapisan yang ketiga inilah lapisan “teks” serta tafsir “konteks(tual)”, krisis, dan ujian terhadap humanisme menjadi semakin tajam. Karena tidak terjadi komunikasi antara manusia yang setara dalam memberi makna secara bersama- sama mengenai “hidup bersama”. Secara logis akal sehat, pertanyaan berikut yang menyusul adalah: sedang “mati lemaskah” humanisme berhadapan dengan tiga gugatan lapisanlapisan di atas?

Humanisme Baru

Di balik tantangan dan pertanyaan kritis atas krisis humanisme di atas, sebenarnya, yang krisis itu teks besar humanisme yang berpretensi mau menyelesaikan rumit ruwetnya persoalan kemanusiaan dalam skala semesta universal. Sementara di teks-teks kecil dengan keragaman kebijaksanaan hidup “lokal”— dalam ungkapan kisah-kisah life wisdom pepatah, peribahasa, kisah rakyat jelata, tradisi lisan, tulisan dan rupa-rupa saga, dongeng yang sarat petunjuk hidup bijaksana untuk manusia dengan alamnya, dengan sesama, dengan Yang Suci—di lapisan-lapisan ini sesungguhnya tidak pernah krisis.

Bila yang mendapatkan ujian ada di penafsiran teks besar, maka jawaban solusinya harus dicari pada penghayatan induktif sehari-hari di ranah day by day life wisdom. Munculnya kembali penghidupan dan “revitalisasi” pikiran- pikiran bijak, kearifan-kearifan ajaran hidup bijaksana yang akrab alam, akrab sesama, dan akrab bumi dari berbagai aneka anak bangsa dengan oase-oase kulturalnya mampu mewujudkan “humanisme baru” pascaujian dan tantangan. Ada tiga ciri humanisme baru ini.

Pertama, dalam berhadapan dan berada di struktur relasi kekuasaan ekonomis kapital dan politis yang mau menghimpitnya, humanisme baru menapaki jalan kultural. Artinya, saat ekonomisasi menghargai orang secara ekstremnya hanya sebagai alat dan hanya dengan nilai uang, maka muncul perjuangan pemberontakan kultural pemanusiawian kembali melalui identitas kultural untuk sebuah kehidupan bersama yang lebih manusiawi dengan pencarian identitas ragam budaya yang dikenal sebagai “multikulturalisme”.

Kedua, ada pada perjuangannya mengenai visi pemuliaan manusia dengan harkat dan nilainya, tetapi sudah mengoreksi diri tak hanya memutlakkan rasionalitas dan libertasnya saja, tetapi terbuka dan lintas ilmu: transdisipliner. Monopoli tafsir kebenaran sentralistis teks besar dikoreksi menuju kebenaran yang saling memaknai lintas dengan kesadaran relatif akan kebenaran.

Ketiga, humanisme baru ini ada pada aksi dan renung olah refleksi dan praksisnya dalam konteks saling belajar antar- ”teks” secara dinamis untuk mencari wujud dijunjungnya “harkat manusia”.Di sini tidak ada lagi monopoli tafsir teks individualis ketika ego otonomi individu dianggap paling benar dan paling bernilai, sementara “teks kolektivis” dianggap tidak benar.

Keterbatasan antagonisme, perlawanan dikotomi ditengahi dengan “dialektika” (tesis versus antitesis untuk sintesis), lalu diproses saling membuahi dalam “osmosis”. Tapi antarteks tetap memberikan sumbangannya permaknaan dan nilai pemuliaan manusia dan hidupnya. Ciri ketiga yang penting ini misalnya bisa dilaksanakan dengan menaruh “teks seni” pada praksis. Maksudnya, mematung pahat atau menari jangan hanya dikurikulumkan sebagai hafalan kognitif.Teks seni harus dihidupi dalam “rasa” (intuisi seni).

Dengan kata lain, proses berkesenian mestilah proses mencipta karya. Sebagai penutup, keindonesiaan adalah proses memperjuangkan pemuliaan harkat manusia Indonesia yang ditenun sebagai proses kultural dari sumbangan-sumbangan keragaman lokalitas dengan kearifan kebijaksanaan budaya hidup yang dimilikinya. Maka krisis sulitnya saling memercayai kembali di antara kita dan sering teganya kita “memperalat sesama” untuk kepentingan kuasa kita, semogalah tahan uji dalam tantangannya.

Sebab sejak awal berdirinya Republik Indonesia para pendiri negeri ini sudah memberi dasar pokok proses membangsanya dalam cita dan visi “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Sebuah cita-cita dan visi proses humanisme Indonesia

Tiga Pilar Kebahagiaan

Komaruddin Hidayat, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
SUMBER : SINDO, 27 April 2012


Sebuah penelitian psikologi sosial menyebutkan, terdapat tiga pilar utama kebahagiaan seseorang, yaitu having a good family life, having a good job, dan having good friends and community.

Ketika diteliti, sebagian besar umur seseorang akan dihabiskan di dalam tiga zona pergaulan dan aktivitas di atas. Tiap zona aktivitas dan pergaulan akan saling melengkapi dan menutupi kejenuhan dan kekurangan yang lain. Yang pertama dan paling dasar adalah keluarga yang baik (a good family life). Secara emosional, keluarga memiliki daya gravitasi paling besar bagi kehidupan seseorang. Apa pun yang dilakukan seseorang di luar rumah pada akhirnya akan kembali kepada keluarga sehingga rumah tangga sering diibaratkan tempat berlabuh bagi sebuah kapal setelah mengembara ke lautan lepas.

Oleh karenanya, karier seseorang yang otentik dan kokoh hanya akan mungkin diraih kalau basis keluarganya solid. Soliditas keluarga dibangun terutama oleh hubungan cinta dan iman. Cinta bagaikan pupuk atau air yang akan membuat pohon rumah tangga selalu tumbuh segar, sedangkan iman memberikan ikatan moral yang kuat bahwa rumah tangga adalah amanat suci dan sebuah bahtera yang jangkauannya sampai di akhirat nanti. Rumah tangga bukan sekadar transaksi administrasi layaknya jual-beli, melainkan juga sebuah perjalanan dan pertumbuhan moral-spiritual.
Kedua, having a good job. Seseorang bekerja tidak semata untuk mengejar uang, tetapi menyangkut harga diri, aktualisasi diri, dan bersosialisasi di luar zona keluarga.Bisa dipastikan, orang yang menganggur, meski memiliki banyak uang, tidak akan bahagia.Orang yang hidup semata mengandalkan harta warisan tidak akan bangga dengan dirinya. Begitu pun mereka yang bekerja, tetapi tidak merasa cocok dan bangga dengan pekerjaannya, hatinya akan tersiksa. Ruang kerja bagaikan ruang tahanan.

Kerja akan terasa nyaman jika sesuai dengan bakat dan minatnya serta kulturnya bagus,tidak koruptif, dengan imbalan gaji yang cukup, syukur berlebih, untuk mendukung kehidupan keluarga. Sebuah lingkungan kerja akan dianggap sehat kalau para karyawannya memiliki peluang dan dorongan untuk tumbuh, baik skill, pengetahuan maupun kepribadiannya. Apalah artinya gaji tinggi jika ternyata tidak halal dan budayanya koruptif. Semua itu akan merongrong kualitas kebahagiaan yang dibangun dalam rumah tangga.
Ketiga, lingkungan pertemanan dan komunitas. Kita semua mengalami bahwa umur kita tidak hanya dihabiskan dalam urusan rumah tangga dan kerja, tetapi juga bermasyarakat. Itu suatu kebutuhan sosial dan psikologis.Makanya muncul komunitas “alumni”di luar jaringan keluarga dan kerja. Hanya, penting dicatat bahwa lingkungan pergaulan yang tidak sehat akan menggerogoti aset kebahagiaan yang kita bangun lewat zona keluarga dan kerja.

Sering terjadi sebuah keluarga terjerat masalah oleh jaringan pertemanan yang tidak sehat. Ini paling mudah diamatipadaremaja,tetapibisa juga terjadi pada orang dewasa. Keburukan itu mudah menular, bahkan kadang lebih cepat dari kebaikan.Oleh karenanya, having good friends and community merupakan satu pilar penting untuk meraih kebahagiaan hidup seseorang. Demikianlah, tentu saja banyak pilar lain yang memengaruhi kebahagiaan seseorang. Namun ketiga aspek tadi begitu dominan.

Di atas ketiganya, menurut hasil penelitian dimaksud, adalah personal values. Nilai-nilai hidup seseorang akan sangat berpengaruh dalam memaknai hidup ini. Bagi orang yang taat beragama dan tidak, tentu akan berbeda dalam memandang keluarga, harta,d an pergaulan. Ada orang yang yakin dengan banyak bederma, bersedekah, maka jalan rezeki akan semakin terbuka. Namun ada yang berpandangan sebaliknya. Inilah yang dimaksud dengan personal values.

Sebuah kerangka berpikir dan keyakinan hidup yang sangat berpengaruh dalam perilaku seseorang, termasuk dalam berumah tangga, bekerja, dan bermasyarakat. Sebagai pribadi saya yakin kerja dan harta yang tidak halal tidak akan mendatangkan berkah dan kebahagiaan. Jika harta haram masuk ke mulut kemudian mengalir bersama darah dalam tubuh, maka harta haram tadi akan masuk disertai energy negative (setan) sehingga perilaku seseorang juga akan seperti setan.

Pikirannya, tangannya, kakinya, mulutnya akan dikendalikan oleh setan. Makanya sebagai orang tua mesti hati-hati memberikan rezeki atau nafkah kepada keluarga. Hindari membawa barang haram ke rumah jika kita benar-benar sayang kepada keluarga. Jangan membawa racun kehidupan. ●

Jumat, 16 Maret 2012

Nabi Orang Termiskin

Ahmad Syafii Maarif, MANTAN KETUS UMUM PP MUHAMMADIYAH
Sumber : KOMPAS, 26 November 2011


Judul yang lengkap sebenarnya adalah ”Asketik Hindu Nabinya the Poorest of the Poor ”. Ini adalah artikel refleksi kesaksian saya atas realitas spiritual seorang asketik Hindu.

Asketik berarti sederhana ekstrem. Saya mendapat undangan dari seorang asketik spiritual untuk mengunjungi kota Bhubaneswar, Negara Bagian Orissa, India, 14-16 November 2011. Saya diajak menyaksikan proyek pendidikan, sosial, dan kemanusiaan dahsyat yang telah digelutinya sejak 20 tahun lalu.

Sosok itu bernama Dr Achyuta Samanta, lahir 20 Januari 1965. Ia berasal dari Desa Kalarabanka, salah satu tempat tinggal suku termiskin di negara bagian itu. Samanta yatim sejak berumur empat tahun. Ibunya yang kini 83 tahun tetap tinggal di desa, sementara saudara-saudaranya tak seorang pun mengikutinya.

Melalui perjalanan hidup yang sangat sulit, Samanta berhasil sekolah dan mendapatkan beasiswa untuk meraih sarjana kimia dari Universitas Utkal.
Aneh bin ajaib, ia melepaskan profesinya sebagai dosen dan kemudian beralih posisi menjadi nabinya ”the poorest of the poor” (kalangan termiskin di antara yang miskin). Nabi di sini hendaklah dipahami sebagai seorang pembebas dari ketertindasan: kasta, ekonomi, pendidikan, sosial, dan politik.

Tuan dan puan jangan kaget membaca kesaksian berikut dari saya (76) yang sudah bersyahadat sejak usia sangat dini. Senin 14 November pagi pukul 07.19, Dr Mahendra Prasad, Direktur Hubungan Internasional Universitas Kalinga Institute of Industrial Technology (KIIT), menjemput saya di Bandara Biju Patnaik dengan sebuah mobil cukup mewah.

Belum ada lini penerbangan internasional langsung ke Orissa. Dengan demikian, saya harus berjam-jam transit di Bandara Delhi yang sangat melelahkan.

Asketisme

Sampai jam itu saya belum dikenalkan dengan nama asketik Hindu yang fenomenal itu, otak dari semua proyek kemanusiaan yang mungkin hanya dia seorang saja di muka Bumi ini dalam makna asketisme: tak terbayangkan di tengah aset proyek ratusan juta dollar AS. Sebuah aset yang tidak akan diwariskan kepada keluarga, melainkan untuk publik, seperti yang ia tegaskan kepada saya.

Dalam perjalanan ke Hotel Trident, Prasad memberi saya beberapa informasi tercetak tentang KIIT, Kalinga Institute of Social Sciences (KISS), dan tentang Samanta. Di hotel secara selintas saya membaca informasi itu, termasuk sosok Samanta yang beberapa jam kemudian datang menemui saya di kamar hotel.

Saya terkejut bukan main, seorang humanis besar datang dengan baju putih lengan panjang, celana jeans, dan sandal lusuh. Langsung saya berucap, ”Tak ada gunanya Anda mengundang saya ke sini. Saya bukan siapa-siapa dibanding Anda.” Dengan sikap penuh hormat sambil mengangkat kedua tangan ke dahi, Samanta menjawab, ”Jangan berkata begitu.Saya mengagumi Anda.

”Terus terang saya malu sekali karena dia tak punya alasan untuk mengagumi saya. Syahadat usia dini tidak mengarahkan saya menjadi humanis yang berarti. Sewaktu saya tanya tentang inti filosofinya, Samanta hanya menjawab, ”Untuk membahagiakan orang lain.” Sebuah filosofi yang melawan sifat mementingkan diri sendiri.

Hari itu juga Samanta untuk kedua kalinya datang ke kamar saya. Pakaiannya tetap saja tak berganti, itu-itu saja. Ia memberikan serangkai bunga berwarna merah, lagi-lagi untuk menyatakan rasa hormat yang sebenarnya tidak patut saya terima. Saya merasa kualitas spiritual saya jauh berada di bawah.

Sore itu saya diajak keliling kota oleh pemuda Chitta Ranjan Panda, asisten liaison officer (staf penghubung) Universitas KIIT. Kami mengunjungi Candi Surya, peninggalan Kerajaan Kalinga, dan ke pantai melihat matahari terbenam dengan mobil KIIT yang cukup mewah.
Sebaliknya mobil Samanta yang sudah berusia 10 tahun tidak juga ditukar. Selasa 15 November pagi, saya diajak mengelilingi semua kampus KIIT dan KISS yang sedang membangun gedung-gedung lain untuk pengembangan lebih lanjut.

Untuk yang Miskin

Belum berumur 20 tahun, KIIT dan KISS sudah tampil sebagai salah satu universitas kelas dunia dengan 36.000 mahasiswa, termasuk mahasiswa asing. KISS dibangun untuk mendidik anak-anak termiskin dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Ada 10.000 siswa dan mahasiswa miskin ditampung dan dididik secara gratis oleh KISS.

Tuan dan puan dapat membayangkan dana yang harus tersedia untuk menghidupi lautan manusia papa itu. Samanta yang merasa hanya sebagai media Tuhan punya mimpi untuk memberdayakan 2.000.000 anak miskin dalam beberapa tahun mendatang. KIIT sekarang sudah punya 16 kampus, termasuk fakultas kedokteran dan fakultas hukum, melengkapi fakultas lain dari berbagai cabang ilmu.

Gambaran tentang sosok yang kita bincangkan ini belum lagi utuh sebelum tuan dan puan mengikuti yang berikut ini. Samanta tetap membujang, tinggal di rumah sewaan, berkantor di bawah pohon, dengan sebuah meja kuno dan beberapa kursi plastik. Jika panas menerpa ”kan - tornya ”, ia bergeser ke sisi lain. Di sinilah dia menerima tamu: presiden, menteri, gubernur, pemenang Hadiah Nobel, Hadiah Magsaysay, pejabat KIIT/KISS, dan tokoh-tokoh dunia lainnya. Semua akan sampai kepada kesimpulan: Samanta humanis yang belum ada duanya.

Pejabat-pejabat KIIT dan KISS bekerja di ruangan ber-AC, mobil mewah, dan berdasi. Samanta tetaplah Samanta, asketik Hindu. Di sebuah ruang di tempat tinggalnya, Samanta pagi-sore bersemedi. Saya diajak menengok ruang ini.

Dua kali dalam seminggu dia berpuasa. Dalam SMS-nya kepada saya tanggal 22 November, Samanta mengatakan akan tetap bertahan sebagai nabi orang miskin dalam asketisme yang membuat saya merasa malu. Samanta adalah pengikut Mahatma Gandhi, tokoh yang paling dikagumi pemikir sejarah AJ Toynbee.

Sore hari 15 November, saya bersama tamu yuris dari Inggris, Prof J Martin Hunter, dan dokter aktivis lingkungan, dr Shri Rajendra Singh, diminta berpidato di depan 15.000 siswa dan mahasiswa miskin yang berdisiplin tinggi. Acara berlangsung di lapangan terbuka kampus KISS.

Akhirnya, tentu amatlah sulit bagi kita menjadi asketik seperti Samanta dengan karya besarnya itu. Sekiranya kita mau hidup jujur dan lurus saja sudah lebih dari cukup, pasti akan banyak sekali proyek pengentasan orang miskin yang dapat kita laksanakan di Indonesia.
Mau studi banding? Temuilah Samanta di KIIT dan KISS, tak perlu ke Yunani atau negara industri lain. Jika memang mau menghalau kemiskinan dari bumi Nusantara, halaulah secara sungguhan! ●

Kick Andy Heroes

Kristanto Hartadi, REDAKTUR SENIOR SINAR HARAPAN
SUMBER : SINAR HARAPAN, 13 Maret 2012



Menyesal juga saya tidak bisa datang ke studio Metro TV pekan lalu memenuhi undangan rekan Andy Noya untuk menyaksikan penyerahan penghargaan Kick Andy Heroes 2012.
Menyesal karena saya pencinta acara Kick Andy, yang saya kira tidak kalah dibanding acara Oprah Winfrey Show, sehingga tidak bisa memperlihatkan dukungan langsung saya untuk acara tersebut.

Buat saya tokoh-tokoh yang dimunculkan dalam program tersebut sama sekali berbeda dengan para tokoh politik yang sehari-hari ditampilkan dalam berbagai berita di televisi ataupun media massa lainnya.
Apalagi, para pemenang Kick Andy Heroes memang orang-orang berkarakter luar biasa, yang berani “berenang melawan arus perusakan massal” yang saat ini berlangsung di negeri kita.

Yang saya maksud dengan perusakan massal itu adalah degradasi moral karena: korupsi (di berbagai bidang kehidupan), kerusakan lingkungan yang parah karena eksploitasi berlebihan, kemiskinan (yang kerap disembunyikan tapi kerap pula dibutuhkan untuk kepentingan politis ataupun ekonomis), dan lain-lain.

Saya merasa bangga menyaksikan seorang hero seperti Irma Suryati (37) penyandang cacat di Kebumen yang berhasil membangun industri kerajinan, bahkan punya sekitar 2.500 binaan (termasuk kalangan PSK).

Irma hanya lulusan SMA. Dia tidak korupsi seperti Nazaruddin atau para politikus, pegawai pajak atau birokrat lainnya. Namun, di tengah kecacatannya dia mampu memberi pekerjaan dan harapan kepada orang lain yang sudah tanpa harapan.

Atau Dadang Heriadi (41), mantan pegawai PLN yang rela mengorbankan hidupnya untuk mengurus orang-orang gila yang menggelandang di jalan-jalan Tasikmalaya.
Padahal, dia bukan konglomerat yang punya dana CSR, tetapi memang menyerahkan hidupnya untuk sesama. Orang seperti Dadang sekelas dengan Bunda Teresa, pemenang Nobel Perdamaian 1979, karena karya kemanusiaannya untuk kaum miskin di Kalkuta, India.

Buat saya orang-orang seperti Irma atau Dadang jauh lebih terhormat dan berharga dibanding para politikus seperti Nazaruddin, atau politikus yang menyatakan siap digantung di Monas kalau terbukti korupsi, mengapa?

Karena para politikus telah mengajarkan kehancuran kepada bangsa ini di saat mereka diberi talenta berlebih oleh Tuhan, sementara para hero itu memberikan hidup mereka yang memang terbatas dan pas-pasan untuk sesama. Para hero itu memberikan jauh lebih banyak dari orang kaya atau politikus hebat mana pun di negeri ini.

Gerakan Masyarakat Sipil

Menjelang pemilihan gubernur di Jakarta tahun ini, muncul sepasang calon gubernur/wakil gubernur yang berasal dari kubu independen, yakni Faisal Basri dan Biem Benyamin. Saya sendiri tidak tahu apakah pasangan ini akan memenangi pertarungan, apalagi menghadapi calon incumbent yang diperkirakan punya dana dan sumber daya tak terbatas.

Namun, saya setuju dengan semangat mereka bahwa calon-calon independen itu merupakan antitesis terhadap para kandidat yang didukung partai-partai politik yang ada. Padahal, sudah terbukti partai-partai politik di Indonesia pada hari ini lebih merupakan beban (liability) ketimbang aset bangsa, namun mereka berkuasa dan menentukan ke mana arus itu mengalir.

Jadi, kandidat independen di pilkada DKI itu seperti berenang melawan arus. Mereka harus didukung, karena semangatnya adalah untuk memperlihatkan dan mengajarkan kepada masyarakat bahwa partai politik harus dikontrol oleh gerakan masyarakat sipil yang terstruktur dengan baik.

Profesor saya di mata kuliah etika komunikasi mengajarkan bahwa tidak setiap penyimpangan yang terjadi di masyarakat harus dilawan dengan legislasi, meski mungkin maksud legislasi itu baik.

Alasannya, tidak semua hal yang terjadi di masyarakat dapat diatur, termasuk dampak-dampak ikutannya (residual effect). Cara untuk melawannya adalah dengan membangun gerakan masyarakat sipil (civil society) yang merapatkan barisan untuk melawan berbagai penyimpangan dan kekacauan yang terjadi di masyarakat.

Contoh paling jelas adalah SKB dua menteri yang mengatur syarat-syarat pendirian rumah ibadah malah menimbulkan komplikasi dan segregasi di masyarakat, karena persoalan seperti itu tidak bisa diselesaikan dengan aturan, melainkan dengan mendidik masyarakat mengenai pluralitas bangsa ataupun civic education.

Akhirnya, saya mau menutup bahwa masih banyak bibit baik di tengah-tengah masyarakat kita, yang dapat membawa bangsa ini menuju kebaikan.

Perbaikan itu akan makin cepat tercapai bila civil society menyadari bahwa tugas dan tanggung jawab kita menyebarkan nilai-nilai kebaikan itu, di tengah perlombaan melawan kehancuran. Jadi, kini saatnya merapatkan barisan untuk kebaikan bersama.

UNGKAPKAN DENGAN BUNGA

Gede Prama, PENULIS BUKU SIMFONI DI DALAM DIRI:
MENGOLAH KEMARAHAN MENJADI KETEDUHAN
Sumber : KORAN TEMPO, 3 Februari 2012


Negeri autopilot, demikian kesimpulan sahabat yang merasa pemerintah seolah olah tiada. Terutama di tengah derasnya ancaman akan pluralitas, aparat sepertinya tidak berbuat apa-apa. Negeri para makelar, itu kesimpulan sahabat lain yang melihat pemerintah hanya adem-ayem atas kemampuan sekolah menengah kejuruan menghasilkan mobil sendiri. Cerita akan lain sekali--masih menurut para kritikus-bila pabrikan mobil luar negeri datang kepada aparat meminta proteksi, plus tentu ongkos komisi buat makelar.

Inilah salah satu wajah demokrasi, dengan pemerintah yang selalu dalam posisi bersalah. Namun, melihat perkembangan kerut wajah sejumlah pemimpin negeri ini, tampak jelas pihak pemerintah juga bekerja keras. Salah satu bagian wajah pemimpin yang bisa mewakili kerja keras dan kelelahan adalah cekungan di bawah mata. Dan ini bukan tidak ada hasilnya, investor luar mulai menyebut negeri ini sebagai wanita cantik. Buktinya, investment grade yang lenyap sejak 1997 sudah kembali dalam pangkuan pada 2011.

Pertanyaan awam sehabis ini, mana yang benar, negeri ini bopeng sebagaimana komentar kritikus, atau wanita cantik sebagaimana kesimpulan investor. “In the deeper level, truth is relational,“ demikian pesan tetua bijaksana dari Timur. Dalam tingkatan yang lebih dalam, kebenaran sifatnya relasional, amat bergantung pada siapa yang mempersepsikan, dengan siapa seseorang berinteraksi, apa kepentingannya, dan seberapa jujur seseorang dalam menyuarakan kebenaran.

Melihat sifat kebenaran yang relasional seperti ini, bisa dimaklumi bila ada guru yang menyarankan sebaiknya seseorang lebih cerdas tidak hanya di depan berita, tapi perlu “lebih cerdas“ bahkan di depan buku suci sekalipun. Lihat konteks lahirnya, cermati dinamikanya, dan pandang secara jernih pewarta berita sekaligus buku suci. Menelan mentah-mentah apa yang disajikan, serupa makan makanan yang belum dimasak, tidak hanya menimbulkan penyakit, tapi juga membuat diri menjadi bagian dari penyebaran penyakit, bukan bagian dari langkah-langkah kesembuhan dan pertumbuhan.

Ini yang bisa menjelaskan kenapa banyak pencinta kejernihan menjaga jarak terhadap kerumunan orang kebanyakan. Ini juga sebabnya kenapa kerumunan orang kebanyakan tidak semakin tersembuhkan di tengah kerumunan, sebaliknya tambah sakit dari hari ke hari. Coba perhatikan angka bunuh diri yang terus meningkat, rumah sakit jiwa yang sesak. Di tingkatan interpersonal konflik, perang dan permusuhan seperti tidak mengenal henti. Di tingkatan kosmik, pada akhir 2011 terjadi gempa dengan kekuatan 9 skala Richter di Jepang (terbesar dalam 1.200 tahun terakhir), yang diikuti tewasnya belasan ribu orang dan hilangnya ribuan manusia yang lain.

Pada tataran ini, rumusnya bukan hanya kejadian memproduksi kebenaran, tapi “kebenaran“ ikut memproduksi kejadian. Sementara dalam geografi berlaku rumus bentuk wilayah menentukan bentuk peta, dalam kekacauan kosmik saat ini rumusnya terbalik, yakni peta (baca: cara memandang) menentukan bentuk wilayah (realitas). Terutama karena kepala manusia berisi banyak kekacauan, kemudian keputusan-keputusannya ikut menciptakan kekacauan.

Mungkin karena merenung dalam-dalam di atas tumpukan bahan renungan seperti inilah, kemudian tetua di Timur menjauh dari perdebatan--apalagi penghakiman anarkistis-dan duduk bermeditasi bersahabatkan keheningan. Di awal perjalanan, keheningan diambil alih oleh kekacauan. Maka banyak orang mudah marah dan protes. Di pertengahan perjalanan, mulai ada ruang antara kejadian di satu pihak dan sikap keseharian di lain pihak. Kadang sikapnya masih dibawa pergi emosi, kadang bisa merasakan keheningan.

Makhluk tercerahkan malah lebih mengagumkan lagi, mulai bisa “istirahat“ dalam ruang-ruang keheningan. Kejadian, berita, dan opini serupa awan. Yang menyenangkan mirip awan putih, yang menjengkelkan serupa awan hitam. Tapi, baik yang putih maupun hitam sama-sama tidak kekal, tunduk pada hukum muncul dan lenyap. Penderitaan terjadi karena manusia menggenggam awan putih, atau menendang awan hitam. Perjalanan menuju kesembuhan lebih mungkin terjadi, saat seseorang belajar menyaksikan muncul-lenyapnya awan-awan, kemudian “istirahat“ dalam kejernihan langit biru. Dan kapan saja awan menghilang, langit senantiasa berhiaskan cahaya yang mengusir kegelapan (baca: kekacauan kosmik).

Ada memang yang menuduh keadaan istirahat terakhir dengan apatis, tapi siapa saja yang lama beristirahat dalam langit biru tahu, sebagaimana air yang tidak bisa dipisahkan dengan basah, keheningan sebagai buah meditasi tidak bisa dipisahkan dengan kasih sayang. Itu sebabnya, salah satu simbol pencerahan yang ada di alam adalah pepohonan. Kelihatannya pohon diam dan pasif, tapi dalam diamnya ia mengolah karbon dioksida menjadi oksigen yang amat dibutuhkan semua makhluk. Pemimpin-pemimpin seperti inilah yang dibutuhkan alam dalam kekinian. Mulutnya memang mengeluarkan teramat sedikit suara, tapi tindakannya menyuarakan kasih sayang. Ini yang di Barat disebut dengan say it with flower. Ungkapkanlah dengan bunga (baca: kasih sayang).

Sementara di Bali, yang bergelimang dolar pariwisata setiap hari, peristiwa-peristiwa mengenaskan terjadi, seperti infeksi HIV/AIDS, bunuh diri, dan konflik, tidak terbayang apa yang terjadi di Indonesia timur yang belum tersentuh pembangunan. Sementara di Jawa dan Sumatera saja infrastruktur jalan demikian menyedihkan, sehingga gerak pelayanan terhadap rakyat terganggu, tidak terbayang apa yang terjadi di tempat-tempat di mana sungai masih tidak berisi jembatan.

Sementara di Jakarta bahaya narkotik tidak sepenuhnya tertangani, apa yang terjadi di pelosok-pelosok yang jauh dari pusat pemerintahan. Hal-hal seperti inilah yang sebaiknya menjadi bahan renungan semua pihak (baik pemerintah maupun kritikus), endapkan sambil menarik napas sebentar, kemudian dengarkan bisikan keheningan: “ungkapkan dengan bunga“. ●